Tuesday, April 15, 2014

Akan Kemana Kaki Kita?





Kurang lebih dua pekan yang lalu, kami masih menghadiri acara pernikahan sama-sama. Saya, dia, dan belasan teman-teman sepergaulan semasa SMA dulu. Tadi subuh, beberapa menit ketika shalat baru saja tertunaikan, dia menelepon. Saya  agak kaget, sebab dia adalah salah satu teman lama yang jarang menghubungi saya. Terakhir dia menghubungi saya dua bulan yang lalu sewaktu dia hendak melaksanakan ujian tutup di fakultasnya. Minta do’a dan akhirnya melucu seperti biasanya. Memang sepulang dari acara pernikahan itu, teman-teman yang lain banyak yang bilang bahwa dia akan berangkat. Alhamdulillah, walaupun butuh tujuh tahun untuk menyelesaikan studi kesarjanaannya, dia begitu cepat mendapatkan pekerjaan, hanya terbilang sebulan semenjak kelulusannya sebagai sarjana teknik. Jadilah hari itu teman-teman banyak yang memberikan nasehat ala kadarnya tersebab lebih banyak teman-teman yang tidak percaya kalau dia akan berangkat secepat itu.

Sewaktu menerima teleponnya, dia banyak bercerita tentang dirinya setelah seminggu di tanah rantau. Bagaimana pekerjaannya, bagaimana kondisinya, bagaimana enaknya ikan nila di lokasi kerjanya, dan blablabla. Kami terpaut perbedaan waktu satu jam. Saat dia menelepon, di sana adzan subuh belum berkumandang, dia juga belum pernah tidur. Masih berjaga-jaga kalau saja ada kapal yang merapat. Ah, saya tidak begitu mengerti apa yang dia kerjakan dengan kapal-kapal itu. Saya lebih banyak mendengar ceritanya yang lebih sering mengeluhkan dirinya yang tak mengenal siapa-siapa dibanding mengeluhkan mahalnya biaya hidup di sana. Sesekali saya bertanya tentang masyarakat di lokasi kerjanya. Tentang kebudayaannya, juga tentang pola hidup masyarakat di sana. Sebab saya memandang bahwa masyarakat memberi pengaruh yang besar terhadap kenyamanan kita di suatu tempat. Suka atau tidak suka, betah atau tidak betahnya kita di suatu tempat amat tergantung dengan bagaimana masyarakatnya. Bagi saya pribadi, saya lebih bisa bertahan dengan kondisi teknologi yang buruk di suatu tempat dibanding bertahan dengan kondisi masyarakat yang amburadul.

Setelah hampir sejam dia bercerita, mungkin juga karena sudah bosan, tanpa aba-aba dia menanyakan tugas akhir saya yang sedang mengalami masa vakum. Ah, padahal saya sedang tidak ingin membicarakan hal itu. Mau tidak mau saya menceritakan bahwa saya masih belum juga melakukan penelitian tersebab suatu hal yang belum juga rampung. Padahal kalau ditanya, saya sudah sangat ingin meneliti. Hehe. Abaikan.



Akhirnya, percakapan kami selesai setelah tak ada lagi topik yang penting untuk dibicarakan. Dia menutup teleponnya, mengucap salam, dan berhasil membuat saya kepikiran sesuatu setelahnya. Pertanyaannya tentang tugas akhir membuat pikiran saya terbang jauh tentang “akan kemana kaki” saya setelah tugas akhir ini rampung dan saya diwisuda?. Dua tahun yang lalu, saya begitu siap dengan keputusan “bersedia ditempatkan di mana saja”. Sekarang pun sebenarnya saya masih siap. Hanya saja, saya kemudian berpikir bahwa, apa yang terjadi jika di sana nanti saya mengalami apa yang teman saya ceritakan. Sendiri di tengah orang-orang yang belum kita kenal dengan baik sepertinya mampu membuat saya mengkhawatirkan diri saya. Lebih kepada iman saya yang memang pada dasarnya berfluktuasi. Sebab, sekali lagi orang-orang di sekitar kita memang memberi pengaruh yang signifikan jika kita berbicara soal keimanan. Sekarang saya masih bisa tertawa lepas, masih merasa baik-baik saja sebab saya hidup di tengah orang-orang dan lingkungan yang kondusif. Mendengar cerita orang-orang yang mengalami “perubahan” tersebab lingkungannya yang tidak kondusif sudah cukup menjadi bahan renungan tentang tidak mudahnya seseorang bertahan dalam kebaikan.

Tiba-tiba saja, saya ingin agar bulan-bulan yang tersisa di  tahun ini berjalan lebih pelan. Agar waktu bersama dengan orang-orang di sekitar terasa lebih lama. Pun dengan bekal menuju hari itu, agar cukup untuk membuat saya bertahan. Tidak hanya bertahan pada hidup, tapi ada yang lebih penting dari itu. Bertahan dalam kondisi keislaman yang baik. Semoga Allah senantiasa mencurahkan rezekiNya. Bukan sekedar rezeki dalam bentuk materi. Tapi lebih dari itu. Ada rezeki berupa orang-orang yang senantiasa saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran di manapun kelak kaki saya berpijak menjalani ketetapanNya.

Wednesday, March 19, 2014

Manusia Matahari



Langit di atas memang masih gelap, tapi semburat warna kemerahan memberikan tanda bahwa hangat mentari akan segera tiba. Maka kita, bersiaplah menyambutnya dengan wajah yang ceria. Kita selalu diajarkan bahwa mentari memberi kita nikmat syukur yang banyak. Nikmat syukur bahwa kita masih hidup dan masih berdiri di atas pijakan kaki-kaki kita. Pijakan yang menopang kuat di atas bumi untuk kemudian digunakan menelusuri tempat demi tempat, untuk sebuah perbekalan menuju tempat selanjutnya.

Mentari. Tentu saja ia berbatas. Suatu ketika ia muncul dengan gagahnya. Suatu ketika yang lain, ia harus menyadari bahwa sudah sampailah batas sinarannya. Malam pun hadir menggantikannya. Esok, bisa jadi ia akan kembali lagi dengan sinar yang baru. Kembali menghangatkan, kembali menghidupkan jiwa-jiwa dari tempat pembaringannya. Tapi esok, belum tentu seperti itu, kawan. Bisa saja mentari tidak akan muncul lagi. Tidak ada sinarannya lagi.

Di bawah mentari, ada manusia yang saling bertemu. Mengucap salam, menebar senyum, bertegur sapa, berbincang hangat, namun seringkali juga hanya saling diam saja. Beberapa di antara mereka ditakdirkan hanya bertemu sekali itu saja lalu berpisah. Selesai. Beberapa yang lain ditakdirkan bertemu dua, tiga, sampai tak terhingga kalinya sehingga perpisahan hampir tidak ada artinya. Toh, mereka akan bertemu lagi.

Suatu saat ketika manusia itu akan pergi, mungkin cukup bagimu hanya dengan menatapnya dari balik punggungnya. Namun ketahuilah, bahwa manusia itu sama halnya dengan mentari. Ia berbatas. Akan ada masa ketika menatapnya pergi tak cukup membuatmu tenang. Ya, kau harus mengejarnya. Sekarang atau tidak sama sekali. Sebab yang berbatas, seringkali hendak menghadiahkan sebuah penyesalan, berujung kesakitan.

Asa.

Setiap kita bangun di pagi hari, kita diajarkan berterima kasih
Pada Sang Maha Pencipta, atas segala belas kasih sayangNya
Rasa terima kasih yang tumpah dan menderas jatuh ke bumi
Teriring do’a-do’a  yang berbalas terbang jauh hingga ke atas langit
Kau tahu, kupikir do’a-do’a ini untukmu
Sebuah asa yang belum menemui keberaniannya.